ID | EN
Santunan Ramadan PWP dan PIS: Kisah Perjuangan Pemulung Menjadi Guru Ngaji

13 Apr 2022  SIARAN PERS

...

Santunan Ramadan PWP dan PIS: Kisah Perjuangan Pemulung Menjadi Guru Ngaji

Jakarta, 13 April 2022- Mata Atun berkaca-kaca, ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya dan menutup sebagian wajahnya dengan kain jilbab yang ia kenakan. Sedikit terisak, ia kembali melanjutkan ceritanya saat pertama kali mendirikan majelis pengajian An-Najm, yang berada di kawasan pemukiman pemulung di Jatiwaringin, Pondok Gede.

“Kalau saya mendengarkan omongan orang-orang saat itu, yang bilang kok bisa-bisanya pemulung jadi guru ngaji, memang bisa apa? Tentunya sekarang kami tidak bisa seperti ini,” tutur Atun, yang kini merupakan ketua TPA An-Najm dan memiliki sebanyak 90 murid untuk membaca dan menghafalkan Al-quran.

Atun mengawali kisahnya dengan peristiwa di 2009 lalu, yang menjadi titik balik hidupnya untuk mendirikan pengajian di kawasan pemukiman pemulung.

“Waktu itu saya pemulung,suami saya juga pemulung. Pada saat itu ada salah satu warga kami yang meninggal, dan kami tidak punya uang sama sekali untuk mengurus jenazahnya. Untuk memandikan, memakamkan, tidak ada uangnya. Kami semua kebingungan saat itu,” ungkapnya.

Saat itu, Atun dan suaminya bingung bukan main. Kondisi hidup mereka yang sangat miskin, bahkan membuat mereka tak sanggup untuk mengurus jenazah yang harus segera dikubur.

“Qadarullah saat itu kami ditolong oleh seseorang. Tapi itu yang membuat saya tercambuk, bagaimana nanti kalau musibah seperti ini terjadi lagi? Tidak ada uang dan bahkan tidak bisa mengurus jenazah.”

Dari situ, Atun memberanikan diri untuk membuat pengajian warga. Cukup sepekan sekali, di pengajian tersebut lalu dikumpulkan uang kas seikhlasnya yang akan dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan mendadak warga pemukiman.

Tentunya hal itu tidak mudah, cibiran dan juga keraguan menyerangnya setiap saat. “Suami saya juga bilang apa nanti tidak perlu uang untuk bikin pengajian? Saya bilang tidak perlu, yang penting niat dan jalankan saja. Mencari siapa yang mau ikut mengaji.”

Atun bukan lulusan pesantren atau lembaga tersertifikasi lainnya, “Modal saya cuma kemampuan mengaji yang saya miliki waktu belajar di kampung dulu.”

Ia bekerja keras mengajak rekan-rekan pemulungnya untuk ikut mengaji. Agar uang kas pengajian bisa berjalan, Atun selaku pendiri juga sampai harus bekerja tambahan menjadi buruh cuci. “Tekad saya waktu itu, hidup saya harus berubah.”

Untuk tempat mengaji, Atun memberanikan diri menghadap bos-nya dan meminta sedikit lahan untuk dijadikan tempat mengaji. Lahan tersebut berupa sepetak tanah dengan kondisi seada-nya. Atun dan suaminya lalu membuat petakan tanah itu tempat mengaji dengan memberi pembatas berupa lembaran seng, dan tanah ditutup oleh karpet bekas pemberian orang.

Meski dengan fasilitas yang sangat terbatas, Atun berhasil mengajak 5 anak dan 8 ibu-ibu pemulung untuk belajar mengaji sepekan sekali.

“Jadi kami mengaji duduk di karpet yang lembab, karena tanah di bawahnya basah. Batasnya seng, sehingga saya harus terus mengingatkan anak-anak untuk tidak bersandar saat mengaji khawatir rusak dan roboh.”

Perlahan tapi pasti, peminat pengajian terus bertambah dan Atun diberi kesempatan untuk menuntut ilmu menjadi guru mengaji tersertifikasi di LTQ Iqra. Di sana, tidak hanya ilmu agama Atun yang meningkat tetapi juga lingkungan pertemanannya.

“Tapi biar begitu, saya tidak pernah berani meminta karena saya takut mereka melihat saya sebagai pemulung, yang suka meminta-minta.”

Atun mencoba mengembangkan majelis An-Najm yang ia gagas dengan swadaya warga dan peserta pengajian.

Perjuangan Atun tidak sia-sia, kini makin banyak warga dan donatur yang ingin membantu memajukan An-Najm. Majelis yang ia gagas kini memiliki setidaknya 90 murid, dan sebagian muridnya bahkan sudah bisa membantunya untuk mengajar mengaji.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu, tentu saja harapan saya pengajian ini bisa terus ada agar anak-anak bisa terus belajar Alquran.”

Kisah Atun yang membangun majelis pengajian ini juga menyentuh Persatuan Wanita Patra (PWP) PT Pertamina International Shipping (PIS).

Ketua PWP Ratna Erry Widiastono mengatakan perjuangan majelis An-Najm secara swadaya hingga bisa terus berkembang menjadi pertimbangan PWP untuk menyalurkan santunan Ramadan ke Atun dan murid-muridnya ini.

“Saya sangat terharu dengan semangat guru-guru di sini dan anak-anak untuk terus belajar mengaji Alquran. Semoga semuanya terus diberi kesehatan untuk bisa berbagi. Santunan dari PWP PIS ini sebagai bentuk sayang kami untuk adik-adik semua, dan Insya Allah bermanfaat,” ujarnya.

Pjs Corporate Secretary PIS Roberth MV Dumatubun juga turut hadir dalam penyaluran santunan tersebut. “Semoga perjuangan Ibu Atun bisa menjadi contoh bagi yang lain dan murid-murid bisa menerapkan apa yang telah dipelajari sehingga bisa menjadi berkah bagi sesama,” ucap Roberth.

Dalam kegiatan kali ini, PWP menyalurkan sebanyak 90 paket santunan untuk murid-murid TPA An-Najm, 10 alquran, 15 sajadah, paket sembako, kipas angin dinding, dan speaker untuk kebutuhan mengaji.

An-Najm sendiri diambil dari salah satu nama surat di Al-Quran yang artinya adalah bintang. Seperti bintang, ilmu dan kebaikan para guru dan murid di pengajian ini diharapkan bisa terus menyinari dan bermanfaat untuk lingkungan.  

Tentang PT Pertamina International Shipping (PIS)

Sebagai Subholding Integrated Marine Logistics, PT Pertamina International Shipping (PIS) terus mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia dengan operasi yang aman dan berkelanjutan, menjadi mitra maritim terpercaya dan handal, serta menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan dalam menjalankan bisnisnya.


Santunan_Ramadan_PWP_dan_PIS:_Kisah_Perjuangan_Pemulung_Menjadi_Guru_Ngaji-